Penulis : dr. Anandita Winadira, M.Biomed

Dosen Prodi S1 Kedokteran

Agenda Sustainable Development Goals (SDGs), melalui Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), mendesak setiap negara untuk mencapai cakupan kesehatan universal. Bagi Indonesia, upaya mencapai target kesehatan pada tahun 2030 sangat erat kaitannya dengan keberhasilan dalam menanggulangi penyakit menular yang masih menjadi beban signifikan, terutama kecacingan (sebagai bagian dari Neglected Tropical Diseases/NTDs) dan malaria. Meskipun sering terabaikan, penanganan kedua penyakit ini adalah kunci untuk membuka potensi pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia bangsa.

Kecacingan yang ditularkan melalui tanah (Soil-Transmitted Helminthiasis atau STH) adalah ancaman tersembunyi yang merongrong fondasi sumber daya manusia Indonesia. Penyakit ini, meskipun jarang mematikan secara langsung, secara kronis menyebabkan kehilangan darah, anemia, dan malnutrisi, terutama pada anak usia sekolah. Dampak langsungnya terasa pada SDG 4 (Pendidikan), di mana fungsi kognitif terganggu, konsentrasi menurun, dan ketidakhadiran di sekolah meningkat, menghambat kemampuan anak untuk menyerap pelajaran. Selain itu, eliminasi kecacingan tidak dapat dipisahkan dari SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi); siklus hidup cacing terkait erat dengan sanitasi buruk. Oleh karena itu, program pengobatan massal harus didukung dengan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur air bersih dan praktik higienis yang memadai.

Di sisi lain, malaria terus menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan ekonomi regional, terutama di wilayah Timur Indonesia yang endemik. Meskipun berbeda kategori dengan NTDs, Malaria menyebabkan episode demam yang parah dan berulang, yang secara langsung berdampak negatif pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Penyakit ini menyebabkan hilangnya hari kerja, penurunan produktivitas, dan membebani anggaran kesehatan keluarga serta pemerintah daerah. Dengan target eliminasi malaria secara nasional pada tahun 2030, Indonesia wajib melaksanakan intervensi terintegrasi, yang meliputi manajemen vektor, diagnosis cepat, dan pengobatan yang tepat.

Secara keseluruhan, keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan kecacingan dan malaria harus diukur lebih dari sekadar statistik kesehatan serta kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan pemerintah daerah. Hanya dengan mengatasi faktor sosial dan lingkungan yang mendasari kedua penyakit ini secara lintas sektor, Indonesia dapat benar-benar memenuhi janji inti dari Agenda SDGs: Memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam perjalanan menuju kemakmuran dan keberlanjutan pada tahun 2030.

Kata kunci: SDG’s, Kecacingan, Malaria

Referensi:

    1. World Health Organization (WHO). (2024). Sustainable Development Goals. [Daring] Diakses dari: https://www.who.int/europe/about-us/our-work/sustainable-development-goals (Diakses: 14 Desember 2025).

    1. World Health Organization, 2017. Integrating neglected tropical diseases into global health and development: fourth WHO report on neglected tropical diseases. World Health Organization.

    1. WHO, 2023. World Malaria Report 2023. Geneva: World Health Organization.