Penulis : dr. W Destiathree S, M.Biomed

Dosen Prodi S1 Kedokteran

Di era informasi digital saat ini, tren kesehatan bergerak sangat cepat. Belakangan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi dengan istilah “Cortisol Face” (Wajah Kortisol). Banyak influencer mengklaim bahwa wajah yang terlihat bengkak (puffy) atau chubby adalah tanda pasti bahwa tubuh Anda sedang mengalami keracunan hormon stres, dan solusinya adalah meminum suplemen herbal tertentu.

Benarkah Stres Mengubah Bentuk Wajah?

Secara fisiologis, kortisol adalah hormon vital yang diproduksi kelenjar adrenal untuk merespons stres. Dalam dunia kedokteran, kadar kortisol yang sangat tinggi secara kronis memang dapat menyebabkan penumpukan lemak di wajah dan leher, kondisi yang dikenal sebagai Moon Face pada Sindrom Cushing.

Namun, bagi mayoritas populasi umum, wajah yang bengkak di pagi hari jarang disebabkan oleh patologi kortisol. Penyebab utamanya seringkali lebih sederhana dan bersifat gaya hidup:

  1. Retensi Natrium: Konsumsi makanan asin berlebih yang menahan cairan.
  2. Kurang Tidur: Mengganggu sistem limfatik wajah.
  3. Dehidrasi: Tubuh justru menahan air saat kekurangan cairan.

Ashwagandha: Obat Ajaib atau Pedang Bermata Dua?

Kepanikan akan “Cortisol Face” memicu lonjakan pembelian suplemen Ashwagandha (Withania somnifera). Secara farmakologi, akar tanaman ini memang tergolong adaptogen yang terbukti dapat menurunkan kadar kortisol serum. Namun, masyarakat perlu waspada. “Herbal” tidak berarti “bebas risiko”. Penggunaan Ashwagandha tanpa pengawasan dosis medis dapat berisiko bagi individu dengan gangguan tiroid, autoimun, atau yang sedang hamil. Mengonsumsinya sembarangan demi meniruskan pipi bukanlah langkah bijak.

Solusi Cerdas: Back to Basic

Daripada terburu-buru membeli suplemen viral, farmakologi modern menyarankan pendekatan yang lebih holistik. Jika Anda merasa cemas dan susah tidur (yang memicu wajah lelah), suplementasi Magnesium (tipe Glycinate) seringkali menjadi pilihan yang lebih aman dan efektif untuk relaksasi sistem saraf dibandingkan memanipulasi hormon secara agresif. Kunci kesehatan sejati bukanlah pada pil ajaib, melainkan pada pemulihan ritme sirkadian: tidur 7-8 jam, hidrasi cukup, dan manajemen stres yang baik.

Bergabunglah Menjadi Agen Perubahan

Tertarik menelusuri fakta di balik keajaiban tubuh manusia seperti ini? Dunia kesehatan membutuhkan pikiran kritis yang mampu membedah mitos dengan sains, bukan sekadar mengikuti tren. Di Program Studi Kedokteran FKIK Universitas Alma Ata, kami mendidik calon dokter untuk tidak hanya menjadi penyembuh yang kompeten, tetapi juga ilmuwan yang berpikir tajam berlandaskan bukti ilmiah. Mari bergabung bersama kami, temukan passion Anda dalam dunia medis, dan jadilah garda terdepan pencerah kesehatan masyarakat Indonesia.

Referensi:

  1. Salve, J., et al. (2019). Adaptogenic and Anxiolytic Effects of Ashwagandha Root Extract in Healthy Adults. Cureus, 11(12).
  2. Hannam, K. (2024). The rise of ‘Cortisol Face’: Medical Fact or TikTok Fiction?. Endocrinology Today.
  3. Arab, A., et al. (2023). The Role of Magnesium in Sleep Health. Biological Trace Element Research.