Asap Kahutla dan Ancamannya bagi Kelompok Rentan – Program Studi Kedokteran Universitas Alma Ata. Kebakaran hutan dan lahan (kahutla) kembali menjadi bencana tahunan di Indonesia. Sejak pertengahan 2026, langit Kalimantan dan Sumatera kembali diselimuti asap. Menurut laporan Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026, kahutla berdampak pada tujuh provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan, dengan lebih dari 10,6 juta penduduk terdampak.
Asap kahutla bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Kandungan partikel halus di dalamnya, terutama PM2.5, dapat masuk jauh ke paru-paru dan memicu ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru, hingga iritasi mata dan kulit. Dampak ini paling berat dirasakan kelompok rentan: balita, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru. Sistem pernapasan anak yang belum berkembang sempurna dan daya tahan tubuh lansia yang menurun membuat mereka lebih mudah jatuh sakit.
Karena itu, masyarakat, terutama keluarga yang memiliki anggota rentan, perlu melakukan langkah perlindungan berikut:
- Batasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara tidak sehat.
- Gunakan masker N95/KN95; masker kain atau bedah kurang efektif menyaring PM2.5.
- Tutup jendela dan gunakan penjernih udara bila tersedia.
- Cukupi minum air putih dan konsumsi makanan bergizi.
- Pastikan obat rutin (misalnya inhaler) selalu tersedia.
Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas berat, nyeri dada, atau bibir kebiruan. Melindungi kelompok rentan adalah tanggung jawab bersama, dan mencegah kahutla sejak awal tetap menjadi upaya terbaik.
Penulis : dr. Anandita Winadira, M.Biomed