Kopi dan Performa Akademik: Batas Aman dan Cara Sehat Minum Kopi – Program Studi Kedokteran Universitas Alma Ata. Banyak orang mengandalkan kopi untuk mengusir kantuk dan meningkatkan fokus. Studi terbaru pada mahasiswa farmasi menunjukkan bahwa 61,3% mahasiswa mengonsumsi kafein 1–2 kali seminggu. Sumber utamanya adalah kopi (48,5%) dan teh (41,7%). Saat mendekati ujian, sebanyak 63,1% mahasiswa meningkatkan asupan kopi mereka.
Namun, studi membuktikan bahwa frekuensi maupun jumlah konsumsi kopi tidak berhubungan langsung dengan peningkatan nilai akademik (IPK). Faktor yang terbukti secara signifikan memicu fungsi kognitif dan prestasi belajar justru adalah kebiasaan tidur siang singkat (nap). Kebanyakan orang (61%) mengonsumsi kafein di pagi hari untuk memulai aktivitas.
Batas Konsumsi dan Cara Minum yang Tepat
- Batas Aman Harian: Batas maksimal konsumsi kafein bagi orang dewasa sehat adalah 400 mg per hari (setara dengan 3 hingga 4 cangkir kopi standar).
- Tanpa Gula: Sebaiknya nikmati kopi hitam murni tanpa gula, krimer manis, atau sirup perasa agar terhindar dari peningkat kalori dan risiko diabetes.
- Wajib Banyak Minum Air Putih: Kafein memiliki efek diuretik ringan yang dapat menyerap cairan tubuh, sehingga Anda harus mengimbanginya dengan minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi.
- Waktu yang Tepat: Hindari minum kopi di sore atau malam hari agar kualitas tidur malam tidak terganggu.
Kelompok yang Tidak Boleh / Harus Membatasi Minum Kopi
Meskipun populer, kopi tidak disarankan untuk beberapa kelompok berikut demi alasan kesehatan:
- Ibu Hamil dan Menyusui: Kafein berlebih dapat menembus plasenta dan memengaruhi janin (dibatasi maksimal 200 mg/hari atau dihindari).
- Penderita Asam Lambung (GERD / Maag): Kopi merangsang produksi asam lambung yang memicu nyeri ulu hati.
- Penderita Gangguan Kecemasan (Anxiety) & Insomnia: Kafein memicu adrenalin yang dapat memperburuk rasa cemas berlebih dan serangan panik.
- Penderita Gangguan Jantung & Hipertensi Berat: Kafein dapat memicu detak jantung berdebar (palpitasi) dan lonjakan tekanan darah.
- Anak-anak dan Remaja Awal: Sistem saraf yang sedang berkembang lebih sensitif terhadap dampak negatif kafein.
Sumber:
Martyn, D., Lau, A., Richardson, P., & Roberts, A. (2018). Temporal patterns of caffeine intake in the United States. Food and chemical toxicology, 111, 71-83.
Daud, S. S. M., & Ayob, H. (2025). From Beans to CGPA: How Caffeine Practice Influences Academic Performance among University Students. Malaysian Journal of Social Sciences and Humanities (MJSSH), 10(10), e003624-e003624.
Penulis: dr. Anandita Winadira, M.Biomed.